Selasa, 07 April 2009

Pacaran Islami

Arman baru saja masuk kedalam salah satu SMA favorit dikota Bogor, pada hari pertamanya masuk sekolah ini, ia merasa gugup dan linglung. Namun setelah satu tahun berlalu kegugupan itupun menghilang seiring dengan banyaknya teman yang ia dapatkan. Arman merupakan siswa aktif disekolah, banyak organisasi yang ia ikuti, termasuk rohis. Arman mulai tercelup pada kegiatan rohis pada awal kenaikan kelas 2 ketika itu ia diajak temannya untuk ikut mengaji. akhirnya ia menemukan tempat dan ruang baru mengenai dunia Islam, keingintahuan yang besar terhadap Islam membuat ia rutin untuk ikut kajian yang selalu diadakan tiap pekannya. Kini ia menyadari Islam secara luas, bukan hanya terbatas pada ibadah dan keimanan saja, termasuk kedalamnya sosial, politik, ekonomi, kemasyarakatan dan yang lainnya.“Tersesat di jalan yang benar”, pikirnya…

…. Tertegun sejenak arman melihat kearah wanita yang berjalan didepannya. Fitrah ALLAAH pun menimpa dirinya. Segera ia memalingkan pandangan nya dan teringat akan firman ALLAAH yang artinya “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. Berlalulah pikiran itu darinya -sejenak-

“Rasa apa ini? mendalam dan menyakitkan, terasa indah dan mengerikan, membuat tersenyum dan menyedihkan, terkadang akal ini tidak bisa melogiskannya dalam sebuah pernyataan yang menyakinkan” huuff… arman membuang nafasnya

… arman pun mulai mencari keddalam literature baik sosial ataupun alam, agama ataupun filsafat, tentang apa yang dirasakannya itu. “Islam adalah agama yang syamil, haruslah diri ini mengacu pada koridor yang telah ILLAAH ku berikan mengenai ilmu yang tidak kumengerti ini” ucapnya. Ia terus mencari dan berdiskusi hingga ia menemukan jawaban dari pertanyaanyaannya. Dan akhirnya ia mngetahui bahwa ia ssedang merasakan cinta. Dan ia sesali akan hal Itu karena ia terkadang merasa berdosa dan salah mengenai apa yang dirasakannya, terlebih, mengingat ia adalah seorang anak rohis, yang menurutnya harus terbebas dari segala macam penyakit hati hati termasuk rasa ini (terkadang manusia menganggap bahwa ia harus menjadi seorang yang ideal seperti malaikat yang hanya beribadah pada Tuhannya dan terbebas dari dosa.. namun apa memang benar seperti itu?apa cinta merupakan suatu penyakit hati?). satu pertanyaan terjawab muncul pertanyaan baru…dan ia menemukan sebuah literature dari sebuah blog (jaz atas blogny, yang menginspirasikan untuk menulis ini) yang memanusiakan dia seperti manusia mengenai hal ini, berikut kutipannya:

“Cinta yaitu Al-Widaad yakni kecenderungan hati pada yang dicintai, dan itu termasuk amalan hati, bukan amalan anggota badan/dhahir. Sesungguhnya kami tahu bahwa kebanyakan dari orang-orang, lebih-lebih pemuda dan pemudi, mereka takut membicarakan masalah “cinta”, bahkan umumnya mereka mengira pembahasan cinta adalah perkara-perkara yang haram, karena itu mereka merasa menghadapi cinta itu dengan keyakinan dosa dan mereka mengira diri mereka bermaksiat, bahkan salah seorang diantara mereka memandang, bila hatinya condong pada seseorang berarti dia telah berbuat dosa.

Kenyataannya, bahwa di sini banyak sekali kerancuan-kerancuan dalam pemahaman mereka tentang “cinta” dan apa-apa yang tumbuh dari cinta itu, dari hubungan antara laki-laki dan perempuan. Dimana mereka beranggapan bahwa cinta itu suatu maksiat, karena sesungguhnya dia memahami cinta itu dari apa-apa yang dia lihat dari lelaki-lelaki rusak dan perempuan-perempuan rusak yang diantara mereka menegakkan hubungan yang tidak disyariatkan. Mereka saling duduk, bermalam, saling bercanda, saling menari, dan minum-minum, bahkan sampai mereka berzina di bawah semboyan cinta. Mereka mengira bahwa ‘cinta’ tidak ada lain kecuali yang demikian itu. Padahal sebenarnya tidak begitu, tetapi justru sebaliknya.

Sesungguhnya kecenderungan seorang lelaki pada wanita dan kecenderungan wanita pada lelaki itu merupakan syahwat dari syahwat-syahwat yang telah Allah hiaskan pada manusia dalam masalah cinta, Artinya Allah menjadikan di dalam syahwat apa-apa yang menyebabkan hati laki-laki itu cenderung pada wanita, sebagaimana firman Allah Ta’ala (yang artinya) :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu : wanita-wanita, anak-anak,… “,(Q.S Ali¬-Imran : 14)

Allah lah yang menghiasi bagi manusia untuk cinta pada syahwat ini, maka manusia mencintainya dengan cinta yang besar, dan sungguh telah tersebut dalam hadits bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Diberi rasa cinta padaku dari dunia kalian ; wanita dan wangi-wangian dan dijadikan penyejuk mataku dalam sholat”( HR Ahmad, Nasa’i, Hakim dan Baihaqi)

“Fitrah yang lucu dan menarik,” pikirnya. Muncul kembali pertanyaan, bagaimana cara untuk mengatasi fitrah semacam ini? Kembali arman mencari jawaban dari pertanyaan itu, kali ini buku-buku sekuler yang bertemakan cinta milik kakaknya menjadi rujukan bacaannya. “pacaran”, terbesit dalam angannya mengenai hal ini. “Tapi pacaran seperti apa yang sesuai dengan koridor Islam?” “apakah pacaran Islami adalah yang dimulai dengan basmallah dan diakhiri dengan hamdallah?” Kembali pikiran-pikiran tersebut bergantung di kepalanya dan semakin besar merajelela menyusuri tiap neuron dalam otaknya….

iapun mencari mengenai pacaran Islami itu seperti apa…puluhan buku dilahapnya dalam beberapa hari. Teman-teman kajiannya dijadikan alat untuk berdiskusi dan bertukar pendapat mengenai cinta dan pacaran Islami. Termasuk kakak mentornya yang dimintai pendapat, “Kak bagaimana caranya pacaran Islami?”, dengan tegas dan dingin kakak mentornya menjawab “dalam Islam tidak ada pacaran, dan itu adalah perbuatan mendekati zina.. titik.” Fisiknya terasa bergetar, hatinya bagaikan tertusuk, jantungnya seperti berhenti berdetak, mendengar jawaban kakak mentornya yang terkesan memvonis itu…

…sebenarnya dia sadar bahwa memang pacaran diindentikan dengan duduk memojok berdua, nonton berdua, pokoknya selalu berdualah, dan dengan ilmu yang dimilikinya ia tau bahwa hal itulah yang menjadikannya berdosa. Namun ia tau dengan jelas bahwa rasa cinta yang dimilikinya adalah sesuatu yang fitrah dan ALLAAH tidak akan menyiksa manusia dalam kecenderungan hatinya. Akan tetapi manusia akan disiksa dengan sebab jika kecenderungan itu diikuti dengan amalan-amalan yang diharamkan. Contohnya : apabila lelaki dan wanita saling pandang memandang atau berduaan atau duduk cerita panjang lebar, lalu cenderunglah hati keduanya dan satu sama lainnya saling mencinta, maka kecondongan ini tidak akan menyebabkan keduanya disiksanya, karena hal itu berkaitan dengan hati, sedang manusia tidak bisa untuk menguasai hatinya. Akan tetapi, keduanya diazab karena yang dia lakukan. Dan karena keduanya melakukan sebab yang menyampaikan pada ‘cinta’, seperti yang telah sebutkan. Dan keduanya akan dimintai tanggungjawab dan akan disiksa juga dari setiap keharaman yang dia perbuat setelah itu.

Adapun cinta yang murni yang dijaga kehormatannya, maka tidak ada dosa padanya, bahkan telah disebutkan oleh sebagian ulama seperti Imam Suyuthi, bahwa orang yang mencintai seseorang lalu menjaga kehormatan dirinya dan dia menyembunyikan cintanya maka dia diberi pahala (dari blog yang sama). “Hmmmph…” Arman menarik napas panjang, yang menandakan kepasrahannya kepada kehendak sang ILLAAHI

Telah 2 pekan Arman tidak mengikuti kajian, teman-temannya pun tidak mengetahui tentang kabarnya, hanya saja teman sekelasnya selalu melihat arman pergi terburu-buru ketika bel pulang dibunyikan…

…pekan berikutnya, dalam mushala ketika akan mulai kajian,

arman pun hadir dan tersenyum kepada kakak mentor dan teman pengajiannya, dengan nada senang dia membagikan sebuah lembaran kepada setiap orang, dan berkata “aku akan mulai pacaran Islami minggu depan…” seluruh matapun terbelalak dan hamper tidak percaya dengan apa yang didengarkan dari mulut arman tersebut, mengingat teman dan kakak mentor telah menyebut dengan sangat gamblang dan jelas bahwa pacaran adalah sesuatu yang mendekati zina.

Kemudian Armanpun meneruskan perkataannya “aku mengambil kesimpulan, bahwa pacaran Islami itu ada selama ada syarat dan ketentuannya, syratnya adalah ijabkabul, wali, pria, wanita dan mas kawin” ucap Arman smabil tersenyum, “ya menikah syaratnya…afwan saya tidak memberitahukan kepada antum semua mengenai hal ini, selama 3 minggu terakhir saya membujuk ayah dan ibu untuk melamar si fulanah, dan bersyukur ayah dan bunda mau dan orangtua fulanahpun menerima dengan sedikit terkejut.” Teman-teman Arman dan kakak mentor pun hanya bisa diam dan kaget melihat lembaran yang berada di tangan mereka semua ternyata adalah undangan pernikahan Arman…

Andaikan tidak ada rasa cinta lelaki pada wanita atau sebaliknya, maka tidak ada pernikahan, tidak ada keturunan dan tidak ada keluarga. Namun, Allah Ta’ala tidaklah menjadikan lelaki cinta pada wanita atau sebaliknya supaya menumbuhkan diantara keduanya hubungan yang diharamkan, tetapi untuk menegakkan hukum-hukum yang disyari’atkan dalam bersuami isteri, sebagaimana tercantum dalam hadits Ibnu Majah, dari Abdullah bin Abbas radiyallahu anhuma berkata : telah bersabda Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam : “Tidak terlihat dua orang yang saling mencintai, seperti pemikahan …” (dari blog yang sama)

waLLAHu’alam bisshaab, afwan klo ada kata-kata yang salah

Ruu, Kamar 12 November 2007, 00:04

Atom, sel, jaringan, organ, dan diri ini hanyalah milik Tuhanku. Tuhankulah yang mengizinkan tangan ini untuk menulis, mata ini untuk melihat, otak ini untuk berpikir, dan hati ini untuk mencinta. Menuliskan ayat-Nya yang terhampar dalam kehidupan, melihat keajaiban Mahluk-Nya, Memikirkan perlakuan-Nya terhadap alam semesta, dan Mencintai Dzat yang merupakan sumber dari rasa cinta. Thank’s ALLAAH.

Special Thx to : A Ruly, for this article…^^

Jumat, 03 April 2009

hati kan mengait

Betapapun kulukiskan keagungan-Mu dengan deretan huruf dan baris
kekudusan-Mu tetap meliputi semua arwah
Engkau tetap Yang Maha Agung , sedang semua makna , akan lebur , mencair , di tengah keagungan-Mu
Wahai Rabb-ku

Ku ingat Engkau saat alam begitu gelap gulita
Dan wajah zaman berlumuran debu hitam
Kusebut nama-Mu dengan lantang di saat fajar menjelang
dan fajarpun merekah seraya menebar senyumannya
senyuman indah